Terakhir Kecewa

Diatas kasur aku terbaring lemah, rasanya ingin sekali marah. Namun aku tidak bisa, seperti ada yang mengikatku. Tanpa aku sadari, aku sudah berada disebuah tempat yang tidak asing lagi, yaitu kelas di sekolah ku. Sendirian tidak ada siapapun, hawa begitu dingin. Hembusan angin begitu keras, hingga pohonpun terombang ambing. Suasana semakin menjadi-jadi, akupun beranjak pergi dari kursi belakang tempat aku duduk. Aku mencoba meraih pintu tapi tak sampai-sampai,  karena semakin ku dekati pintu itu semakin menjauh. Aku berlari sekuat tenaga untuk menggapai pintu itu, sampai akhirnya aku menyerah dan pasrah.

            Aku merenung dengan keadaan yang seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi padaku hari ini. Akupun menundukkan kepalaku, panas, begitu panas kepalaku seperti akan meleleh. Sudah tidak tau lagi mau berbuat apa. Aku kembali bangun dari keterpurukanku, saat aku kembali membuka mataku, aku sudah berada ditempat yang lain lagi.  Tempat yang lebih dingin, kumuh dan seram, daun-daun kering berguguran, rumput yang tinggi menguning dan mati kering hampir menutupi keramik.

            Aku berjalan mengikuti langkah kakiku, memang tidak begitu jelas ini tempat apa. Dinding-dindingnya sudah tertutupi oleh lumut yang tebal, terus aku berjalan melihat sekeliling. Namun tiba-tiba, “bruk!!” aku tersandung rel kereta api yang sudah berkarat dan tertutupi rerumputan. Saat aku kembali berdiri, terdengar suara perempuan yang berteriak lantang dan meminta tolong. Aku bergegas mengikuti arah suara itu, sumber suara itu berasal dari lorong sebrang. Samar-samar dapat ku lihat,  seorang wanita yang sedang diperkosa. Aku perkirakan pelakunya seorang laki-laki yang berbadan agak kurus , tinggi, memakai jaket dan celana jeans sertai topi yang  terpaksa terbalik.

“Heeeii!!!” aku berteriak ke arah orang itu.

 Orang itu langsung melarikan diri dan meninggalkan wanita itu yang terbaring lemah, tanpa sehelai benang. Aku bergegas menghampiri wanita itu, namun aku sangat terkejut. Apa yang ku kira manusia, nyatanya adalah boneka wanita dengan tubuh yang tercabik-cabik dan berlumuran darah. Wajah yang sedikit tertutup rambut panjang coklat, sudah tidak berbentuk lagi, dengan mata yang melotot merah. Aku langsung berdiri bingung, takut, dan lagi kepalaku terasa panas, sakit.

 “Aaaarrrgg!” teriakku kesakitan, dan semuanya menggelap.

            Aku terbangun setelah entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri, tak tahu beberapa menit atau bahkan berhari-hari. Dengan keadaan seperti ini, waktu menjadi tidak menentu bahkan tempatpun berubah-ubah. Saat ada kejadian aneh, kepalaku akan  menjadi terasa panas dan sakit. Aku bangun dan memegangi kepalaku, setelah aku lihat-lihat sekitar aku sudah berpindah tempat. Kali ini aku berada di tepi jembatan, tempat kendaraan lalu lalang.

            Dimalam yang gelap dan penerangan jalan yang hidup mati, berkabut dan hening sekali. Aku mulai menelusuri jembatan ini, aku tidak tahu sepanjang apakah jembatan ini. Rasanya sudah ratusan bahkan ribuan kali aku melangkahkan kaki, tapi tak sampai-sampi diujung jembatan. Dalam perjalanan aku tidak begitu takut seperti yang sudah-sudah, karena masih ada mobil yang lewat satu, dua, tiga, empat, terus bergantian. Menurutku itu wajar, karena sudah tengah malam.

Saat ku berniat mencari jalan pulang, karena jembatan yang sedang dilalui ini memang tidak jauh dari rumah. Tapi ini sudah terlalu jauh. Ketika itu mobil sedan berwarna hitam dengan plat kendaraan “S 374 N” menghampiriku tepat didepan, aku seketika berhenti untuk mencari tau siapa dibalik mobil sedan hitam itu. Namun sayangnya pemilik mobil tidak keluar-keluar, hanya pintu belakangnya saja yang terbuka seperti ingin memintaku untuk masuk. Akupun mengikuti tanda itu, mencoba masuk kedalam mobil sedan hitam itu. “S 374 N” awalnya aku tidak memperdulikan plat itu, setelah aku masuk dan menutup pintu mobil. Sang sopir yang belum ku ketahui, dengan sigap menancap gas nya perlahan.

Sopir pemilik mobil tidak berbicara sama sekali, mungkin sedang fokus ke jalan yang sepi dan berkabut.  Takut-takut jika berbicara, bisa membuat celaka kendaraan. Aku membuka pembicaraan, karena suasana sudah terlalu hening.

“Makasih atas tumpangannya ya mas” ucapku dengan pelan.

 Tidak ada jawaban sama sekali, akupun kembali bersandar dikursi yang empuk ini. Terbayang kembali “S 374 N”, aku langsung melihat sekeliling mobil. Berusaha mencari yang aneh, dari kendaraan yang sedang aku tumpangi ini.

“Tidak ada, tidak ada yang aneh, apa mungkin fikiranku saja yang terlalu takut” Ucap batinku.

Dan secara reflek aku melihat cermin di tengah yang menghadap tepat ke wajah si sopir.

“Haaahh!” terkejud aku melihat wajah yang mirip denganku, tapi sudah rusak seperti telah dihantam aspal jalan dan berlumuran darah. Dan saat itu juga sopir itu langsung menancap gas kencang hampir 200km/h, terus menengok kearah ku dengan tatapan yang mengancam. Aku mencoba keluar dari mobil, sialnya pintu sudah terkunci. Aku mendobrak-dobrak kencang kaca mobil tapi percuma. Terpojok aku, sopir “S 374 N” yang mempunyai cara membaca SETAN itu mendekat kearahku. Meninggalkan kemudinya dengan merangkak, suasana terasa begitu menakutkan.  Ketika hampir menggapaiku, secara tiba-tiba

 “Duuuaarr!!!”.

“Huuwwwwaaa!!!” teriakku. Aku terbangun dari kasur dan terengap-engap.

“Ya Allah, Nak tenang Nak, Alhamdulillah” ucap seorang ibu tua disebelah kananku untuk menenangkanku sambil menagis.

“Pak bangun Pak, Nandan sudah siuman. Alhamdulillah Ya Allah, Pak bangun” kata ibu itu membangunkan suaminya.

“iya Bu? Yang benar? Alhamdulillah, Dok dokter!!!” teriak bapak tua dibelakangnya.

 “aku mencari dokter dulu Bu” imbuhnya dan berlari keluar dari ruangan itu.

Aku yang telah sadar namun hanya melamun kebingungan, ketakutan, trauma, sakit sekujur tubuh. Karena kejadian-kejadian yang aku alami sebelum-sebelumnya.

“Suara? Aku mendengarkan suara ibu-ibu  dan bapak-bapak teriak? Tidak, itu tidak mungkin, ini adalah kejadian aneh selanjutnya yang akan terjadi kepadaku” ucapku dalam hati yang sudah trauma.

“Tapi sentuhan ini, sentuhan tangan ini begitu nyata, benarkah aku sudah sadar? Lalu kenapa? Apa yang terjadi kepadaku.”

Aku terus menanyakan ini kepada diriku sendiri. Aku ingin sekali menengok, tapi tidak berani. Takut jika dia bukanlah manusia, melainkan setan. Aku kembali memejamkan mataku, karena aku telah sadar bahwa ini akan sama saja dengan yang sudah sudah.

Seorang Dokter datang dan memeriksa keadaanku yang babak belur penuh luka.

 “Alhamduliilah Bu, Pak. Anak kalian sudah sadarkan diri, saya sudah mengasih suntikan penenang, dan biarkan anak ini tidur sebentar” kata dokter.

“Iya Dok, makasih” kata ibu.

“Mari Pak, ikut saya untuk mengambil obatnya” kata dokter mengajak bapak itu.

“Oh iya dok, aku tinggal dulu ya bu” kata bapak.

“iya pak” jawab ibu.

Setelah setengah jam aku tertidur, aku bangun dan melihat suasananya masih tetap ditempat yang sama dengan ibu tua disebelahku yang sedang tertidur. Aku mencoba untuk bangun dan duduk diatas kasur tapi tidak bisa, badanku masih lemah. Aku melihat keadaanku sendiri, badan yang masih diselimuti kain selimut, tangan yang terbalut perban kepalaku juga tidak luput dari perban.

Aku ingin memastikan jika wanita yang disampingku adalah ibuku, aku membangunkanya.

“Bu, Ibu, bangun Bu” kataku sambil menggerakan tangannya.

“Iya Nak” jawab ibu setelah aku bangunkan.

Momen seperti ini aku was-was, benarkah ini ibuku asli, atau hanya ilusi aneh. Aku menarik nafas dalam-dalam, sambia melihat wajah ibu itu dan… “Huuft” aku bernafas lega, ternyata benar ibuku.

“Ada apa nak?” tanya ibu.

“Tidak apa Bu, aku haus” jawabku sambil tersenyum.

Ibu itu mengambilkan minuman untukku dan aku bertanya.

“Bu aku ini kenapa ya? Dan sudah berapa lama aku terbaring dirumah sakit?” tanyaku penasaran.

 “Kamu itu kecelakaan Nak, di jembatan besar itu, saat kamu pulang sekolah, dan koma selama 10hari” jawab ibu sambil membawakan minum.

“Begitu ya Bu” ucapku singkat.

 “Iya Nak, kenapa?” tanya ibu.

 “Selama aku koma aku mengalami hal-hal aneh Bu, dan tempat itu menyeramkan sekali…,” jawabku terpotong oleh sodoran minuman dari ibu.

“Ini Nak” kata ibu sambil menyodorkan minuman.

“Iya Bu, makasih” ucapku sambil mengarahkan gelas ke mulutku, dan saat itu dari dalam gelas yang berisi air teh, keluar bola mata merah.

“AAAHHRRggh”.

Dan terjadi lagi, kejadian aneh itu terus terulang ulang setelah apa yang dilakukan Nandan semasa hidupnya. Nandan meninggal karena kecelakaan, mobil yang ia kendarai terjatuh dari jembatan karena dia yang sedang mabuk. Tidak hanya itu, sebelumnya ia pernah memperkosa temannya di lorong kereta api, dan memutilasi wanita itu. Di kelas Nandan sangat ditakuti, sudah dicap anak nakal. Sekarang jiwanya tidak tenang, karena perbuatannya semasa hidupnya.

Oleh : Bahrul Ulum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *