Perpustakaan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Foto by : Dinda O.P

Menunjukkan perkembangan pemikiran dari pemiliknya pada masyarakat luas, perpustakanlah yang memiliki peran tersebut. Sebagai bentuk mewujudkan budaya literatur perpustakaan melibatkan berbagai pengguna dari kalangan masyarakat dan di peruntukkan secara luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan usia, suku-ras, jenis kelamin dan agama. Perpustakaan juga menjadi sumber dari bahan-bahan yang dibutuhkan masyarakat dalam menghasilkan, memperluas, dan memperhalus kekayaan budaya bangsanya.

Perpustakaan menjadi agen dalam produksi pengetahuan bersama. Nilai sebuah perpustakaan bergantung pada kemampuannya dalam mencerminkan perkembangan melalui koleksinya dan kemampuan untuk memamerkan perkembangan pengguna perpustakaan tersebut. Dengan ruang, tumpukan buku dalam rak, dan tanpa dipungut biaya sedikitpun, seharusnya masyarakat lebih memaksimalkan budaya membacanya.

Di Indonesia sendiri tercatat Lembaga survei, UNESCO misalnya hanya 0,0001%. Artinya dari 1000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. hal tersebut menunjukan bahwa Indonesia menduduki peringkat 60 persis berada di bawah Thailand peringkat 59.Masih ingat dengan dua puluh empat tahun lalu, tepatnya pada 14 September, Presiden Seoharto menetapkan Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca. Tentu ini akan keluar pernyataan bahwa minat baca di Indonesia masih sangat rendah, seperti dalam pembahasan di atas. Masyarakat lebih memilih budaya lisan dari pada budaya membaca, mungkin karena dari nenek moyang kita yang tidak gemar membaca kala itu, sehingga turun temurun hingga sekarang.

Apakah ini merupakan narasi yang salah? atau Lembaga survei salah dalam sampel penelitiannya? Tentu ini menjadi suatu pertanyaan yang perlu di tuntaskan.

Upaya Tumbuhkan Literasi

Anak-anak malas membaca buku karena memang sekolah tidak pernah membuka ruang perpustakaan. Anak-anak sungkan ke perpustakaan karena rak-rak buku disekolah hanya berisi buku BSE atau buku paket pelajaran saja. Jarang sekali ditemui buku karya Andrea Hirata, Fiersa Besari, Tere Liye, atau Puthut Ea. Guru-guru juga tidak memberikan mempelajaran yang menyenangkan dalam meningkatkan minat baca, misalnya menceritakan kembali dalam komik Gundala. Sehingga anak-anak sekarang cenderung lebih suka memiringkan layar bercahaya berupa gadget. Memang itu ada benarnya karena zaman sekarang, era digital, dan juga memutuskan turun-temurunya nenek moyang kita, tetapi alangkah lebih baiknya apabila itu adalah budaya membaca yang lebih diperioritaskan, pasti Indonesia tidak pernah berada di posisi paling bawah nomer dua.

Terkait fakta literasi tersebut harusnya menyebabkan kita berbenah diri, karena ini sangat berpengaruh besar terhadap bangsa untuk mewujudkan karakter anak bangsa. Membuat program perpustakaan keliling, budaya literasi keluarga, perpustakaan mini dan lain sebagainya. Sebab membumikan literasi melalui perpustakaan keliling itu efektif bagi masyarakat yang membutuhkan, minimal upaya itu digalakkan di perkotaan yang ramai dengan orang-orang yang sedangkumpul-kumpul bersama. Budaya literasi keluarga merupakan wujud nyata pribahasa “sedikit demi sedikit, menjadi bukit”. Bermula dari keluarga yang kemudian berakhir pada yang terciptanya sebagai negara literasi tinggi. Tak hanya itu perpustakaan mini apabila dibuatkan setiap daerah juga sangat berperan, misalnya salah satu kampung memiliki perpustakaan mini, tentu manusianya akan berkunjung,dan lama-lama menjadi cinta, alhasil budaya literasi meningkat.

Menurut Asra (Azra, 1998), budaya literasi: kegiatan Ilmiah yang tereduksi tak dapat dipungkiri bahwa ada kaitan antara Lembaga Pendidikan dan dunia intelektual. Keduanya sangat interaktif (saling mempengaruhi) dan interdependen (saling tergantung dan membutuhkan) salah satu cara untuk membangun tradisi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi adalah mengoptimalkan budaya literasi di kalangan mahasiswa. Kemajuan sebuah bangsa tercermin giat atau tidaknya budaya literasi masyarakat. Karena globalisasi telah menciptakan ruang aktualisasi yang luas, dunia akan memandang sebuah bangsa dari apa yang dihasilkannya.

Penguasaan literasi dalam segala aspek kehidupan memang menjadi tulang punggung kemajuan peradaban suatu bangsa. Tidak mungkin menjadi bangsa yang besar, apabila hanya mengandaikan budaya oral yang mewarnai pembelajaran di kalangan sekolah maupun perguruan tinggi. Namun disinyalir bahwa tingkat literasi khususnya di kalangan sekolah semakin tidak diminati, hal ini jangan samapi menunjukkan ketidakmampuan dalam mengelola sistem pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itulah sudah saatnya, budaya literasi harus lebih ditanamkan sejak usia dini agar anak-anak bisa mengenal bahan dan dunia membaca dan tulis-menulis.

Buku adalah jendela dunia dan membaca adalah kuncinya. Dengan membaca buku, ilmu pengetahuan akan didapatkan. Kegiatan membaca jelas menambah wawasan tentunya juga berdampak mental ataupun perilaku seseorang, dan mungkin memiliki pengaruh besar bagi masyarakat. Untuk itu mari kita membangun bersama, budaya literasi Indonesia yang berada dalam kondisi kritis. Jika tidak Indonesia akan terpuruk menjadia paria. Budaya literasi adalah masalah serius. Tentunya dengan mengaplikasikan perpustakaan yang sekiranya di minati oleh masyarakat. Sangat berpengaruh sekali dalam menumbuhkan bangsa yang cerdas, mampu menorehkan karya dengan menelaah sejarah demi menjaga kekayaan budaya bangsa kita, Indonesia.

Oleh : M. Aris Yusuf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *