Pertamakalinya FUAD adakan ICRCS

Fakultas Ushuluddin Adab Dan Dakwah (FUAD) IAIN Pekalongan mengadakan International Conference on Religion Culture and Spirituality For Muslim Society (ICRCS) untuk pertama kalinya dengan bertemakan “Reconciling Clash Between Islamic Radikalism and Moderateness to Tackle Future Terrorism”. Konferensi internasional ini berlangsung selama dua hari 18-19 September di Hotel Dafam Pekalongan.

Audiens merupakan mahasiswa dan dosen, baik dari IAIN Pekalongan juga dosen Perguruan Tinggi Islam Se-Indonesia seperti Aceh, hingga Ambon.

Dalam acara ini membahas bagaimana kita menyikapi radikalisme Islam ditengah-tengah tuntutan untuk kita bisa menyesuaikan dengan zaman, karena radikalisme itu memiliki banyak faktor penyebabnya.

Dengan menghadirkan narasumber dari Brunei Darussalam Dr. Harapandi Danhi serta Assoc. prof. Dr. Aini Maznina A. Manaf dari Malaysia, Imam Khanafie selaku Dekan FUAD berharap mereka dapat memberikan pengalaman dalam menangani pemikiran dan gerakan radikalisme di negara mereka dan bisa kita jadikan sebagai contoh bagaimana memformulasikan dakwah islam agar tidak mengandung nilai-nilai radikalisme yang mana bertentangan dengan nilai-nilai budaya bangsa kita karena itu akan merusak satu kesatuan bangsa. Selain itu juga dapat memahami akar-akar radikalisme dan terorisme, serta mencari formulasi yang bijak untuk menanggulanginya sehingga kedepan bisa terminimalisir gerakan-gerakan dan praktik radikalisme yang mengatasnamakan agama.

“Kegiatan permulaan yang sangat bagus untuk FUAD agar kita mempunyai pengetahuan yang lebih luas yaitu dengan mendatangkan pemateri dari luar. Juga bisa menambah kualitas FUAD sendiri baik dari dosen maupun pimpinan dan untuk mahasiswa bisa menambah pengetahuan,” tutur Khafid mahasiswa KPI selaku peserta.

Kepada jurnalis kpipekalongan.com Imam menuturkan, ini juga merupakan satu mandat dari kementrian agama kepada Perguruan Tinggi Islam seperti IAIN Pekalongan untuk menjadi agen moderasi islam. Artinya IAIN dan Perguruan Tinggi islam lainnya harus mensosialisasikan ajaran agama islam itu yang ramah, yang tidak mengandung nilai-nilai anarkisme apalagi radikalisme dan terorisme. Justru Indonesia itu butuh sekali orang dari Perguruan tinggi agama Islam dalam menanggulangi kelompok radikalisme yang semakin marak di Indonesia.

“Saya berharap, kita IAIN Pekalongan memiliki pemahan yang utuh terhadap gerakan radikalisme dan sekaligus memiliki langkah-langkah yang jelas dalam menanggulanginya. Terutama penanggulangan dalam bentuk pembelajaran yang anti radikalisme sehingga kita tidak menjadi sasaran dari kelompok radikal di Indonesia. Karena kampus itu selalu menjadi target, nah kalo kita memperkuat basic moderasi islam di kampus, akan menjadi modal untuk penanggulangan radikalisme itu dan tentu kita berharap bisa berkontribusi di radikalisasi yang dilaksanakan oleh negara,” Pungkas Imam. (Dop)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *