Demi Yang Takkan Terulang

Akan ku ceritakan padamu seorang gadis kecil penuh impian di sekitar kita, yang cukup membanggkan. Baik membanggakan orang tuanya, di sisi lain juga almameternya tempat dia belajar sekarang. Namanya Ihza Maulina. Jauh-jauh hari ia terangkan padaku tentang impiannya kelak jika sudah menginjak usia genap—20 tahun nanti, ia ingin berikan sesuatu yang berarti baik bagi dirinya maupun lingkungannya. Ia punya cara tersendiri dalam memperingati hari ulang tahunnya yang kesekian kalinya itu.


“Ya, itu kan impianku sejak dulu,” demikian dia bercerita padaku, “kala aku usia 20 tahun nanti, aku harus merayakannya di suatu tempat yang indah dan penuh pengalaman.”
Menurut teman dekatnya Amalia Afifah yang sekarang ambil di jurusan PIAUD menuturkan, “mimpi” itu muncul karena momen ulang tahunnya ke dua puluh itu langka terjadi. “Setahuku karena tanggalnya bagus, 19-9-19. Jadi Ihza bermimpi untuk melakukan suatu hal yang berbeda dan progresif,”ujar Amalia Afifah.

Maka demi mewujudkannya, dia selalu panjatkan doa kepada Tuhan agar terwujud impian yang sudah direncanakan sebelumnya. Pagi siang sore sampai malam ia tak lupa untuk melantunkan harapan-harapan pada sebaris kata-kata yang diucapkannya di setiap sehabis shalat. Tiap saat. Bahkan saking inginnya, dia rela mengurangi tidurnya dan bangun untuk shalat tahajjud. Tidak lain tidak bukan, untuk “hajat pribadi”nya untuk perayaan ulang tahun di umur dua dasawarsa itu.

Benar saja atas kesungguhan tekadnya, Tuhan memberikan jalannya. Waktu itu Ahmad Zainuddin yang menjabat sebagai ketua BIDIKMISI IAIN Pekalongan 2019 menyebar poster lomba menulis kisah inspiratif—yang bertajuk “Goresan Pena Sang Pemimpi” yang diadakan di Lombok—tepatnya di Universitas Mataram. Dia lantas segera mendaftar perlombaan itu. Dia mengirimkan naskah berjudul “Anugrah yang Tersembunyi” pada perlombaan yang dilaksanakan oleh TIMDIKSI Nasional 2019. Sempat ia heran terkait pelaksanaan karena akan diadakan pada tanggal 19 September.
“Pas aku lihat di pamfletnya kok pelaksanaan acara di Lombok itu bertepatan dengan ulang tahunku yang ke-20? Ya sudah aku tambah semangat ngerjain tulisannya.”
“Kebetulan itu tanggal cantik sembilan belas sembilan sembilan belas juga,” tambah Ihza.

Tepat di hari pengumuman kelolosan seleksi tulisan Rabu 31 Juli, mahasiswi atas nama Ihza Maulina tercantum dalam 20 besar terpilih. Itu artinya ia bakal berangkat ke Lombok dan bakal mewakili kampus di ajang Temu Ilmiah Mahasiswa BIDIKMISI tingkat Nasional. “Tanggal 17 aku berangkat ke Lombok,” ujarnya.
Sempat ada kekhawatiran di hati Sudiarti—ibunda Ihza Maulina ketika mendengar anak sulungnya ini berangkat seorang diri ke Lombok. Seperti pemberitaan di televisi-televisi itu tentang kecelakaan baik itu tenggelamya kapal atau jatuhnya pesawat ke laut. Pikiran itu membayangi ibu.
“Kamu naik apa kesana?” tanya ibu.
“Pesawat bu,” jawab gadis kecil itu.
“Duh kok pesawat sih,” keluh ibu, “banyak kejadian lho di tivi-tivi.”
“Ya jangan seperti itulah bu,” gadis kecil coba menanggapi, “doakan saja semoga selamat.”

Dia akhirnya mengurus administrasi segala macam ke kampus dan mengabarkan kabar gembira ini kepada Wakil Rektor III. Lewat itu harapannya agar dapat fasilitas yang dibutuhkan selama berada di Lombok. Maklum, ongkos bolak-balik Lombok cukup mahal. Jika dihitung total ongkos perjalanan saja sudah dua juta lebih.

Selain itu tujuannya untuk berkonsultasi mengenai masalah pembuatan video kreatif sebelum berangkat ke Lombok. Yang nantinya akan dipresentasikan di sana. Gadis kecil yang ku ceritakan ini kebingungan sehingga perlu adanya bimbingan dan arahan dalam pembuatan video tersebut. “Kamu bimbingan dulu sama Bu Viky.Skenarionya bagaimana, timnya siapa saja dan pembuatan videonya dipersiapkan dengan matang,” kata gadis kecil menirukan ucapan Wakil Rektor III.
Sesuai rencana awal, besok ia akan terbang ke sana untuk menuntaskan mimpinya di umur ke dua puluh.

Mempresentasikan video kreatifnya yang berdasar pada pengalaman hidup sejak duduk di bangku dasar hingga perguruan tinggi. Yang ia tulis pada buku catatan diary lalu ia jabarkan pada naskah yang ia kirim sebagai syarat perlombaan.

Pada akhir kalimat naskah “Anugrah yang Tersembunyi” gadis kecil penuh mimpi menegaskan bahwa dirinya bukanlah gadis biasa pada umumnya. Begini tulisnya:
“Seorang pemimpi tidak akan puas dengan satu mimpi. Ia akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mimpi-mimpi selanjutnya. Teruslah bermimpi setinggi langit, karena jika jatuh kamu akan tiba di antara bintang-bintang.”
Entah mimpi apa selanjutnya? Tunggu saja.

Oleh : Saiful Ibad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *